Digempur Gula Impor, Petani Tebu Di Pati Menangis

Adji Sudarmadji, Ketua APTRI Kabupaten Pati
Adji Sudarmadji, Ketua APTRI Kabupaten Pati

Pati, Jateng, (BIN) – Petani tebu di sebagian wilayah Kabupaten Pati, mengeluhkan turunnya hasil produksi tebu mereka. Ini terjadi, selain karena anjloknya hasil panen akibat bencana banjir, juga gempuran impor gula oleh Pemerintah yang berlebih.

Turunnya kuantitas panen tebu karena banjir yang terjadi diawal tahun ini, dan gempuran impor gula dari luar, yang berdampak anjloknya harga jual gula, mengakibatkan rendahnya pendapatan petani tebu.

Saat dimintai komentarnya terkait rendahnya pendapatan petani tebu yang menjadi anggotanya, Ketua APTRI Kabupaten Pati, Adji Sudarmadji mengaku, pihaknya telah berupaya sekuat mungkin untuk bisa meningkatkan pendapatan. Diantaranya, berkoordinasi dengan pabrik gula, untuk memberikan talangan bagi petani tebu.

“Kalau di PG Pakis memang sampai periode sepuluh sudah mendapat talangan, dan nampaknya periode bulan sebelumnya produk gula juga akan diberikan talangan, meskipun nilainya kecil. Kalau dulu besarnya talangan Rp.8ribu, sekarang Rp.5ribu. Namun teman-teman APTRI ada yang memberi talangan sampai Rp.8.500,” kata Ketua APTRI Kabupaten Pati.

Adji Sudarmadji menambahkan, harga jual gula sekarang posisinya per Kg ditingkat lelang petani tebu, berkisar Rp. 8.300. Ini jauh lebih rendah dari harga jugal gula pada 2012 lalu, yang bisa sampai Rp.12ribu/Kg. Padahal, HPP sesuai dengan SK Menteri Perdagangan yang sudah direvisi, berkisar Rp.8.500/Kg. Namun, harga itu belum aman sampai di tingkat petani tebu.

“Nah kenapa harga gula dalam negeri terpuruk. Karena melimpahnya di Indonesia, ya memang gula impor itu. Kalau enggak ada gula impor, gula produksi dalam negeri tetap kurang. Tapi impornya kemarin berlebihan hingga mencapai 7juta ton, yang bisa dikonsumsi selama 2 tahun. Sebenarnya gula-gula impor yang sebetulnya untuk konsumsi industri makanan dan minuman, banyak merembes ke pasaran konsumsi rumah tangga. Ini faktor utamanya,” kata Adji Sudarmadji.

Ketua APTRI Kabupaten Pati, Adji Sudarmadji mengatakan, faktor-faktor penyebab merosotnya harga gula, karena produksi tebu sendiri menurun, akibat banjir yang melanda sebagian wilayah Kabupaten Pati. Sehingga daerah-daerah tertentu tergenang air, dampaknya produksi tebu berkurang, dari yang biasanya petani dapat memanen 800 kuintal/hektar, tapi kemarin rata-rata turun menjadi 600 kuintal/hektar. Meski ada sejumlah daerah, yang mampu memanen hingga 1 ton lebih panen perhektarnya.(Agus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *