Tanah H Timbang Dikuasai Ganing

Sengketa Lahan Yang Tak Kunjung Selesai (Bagian 1)

image001BOMBANA, SULTRA, (BIN) – Kejadian yang menimpa H Timbang sangat memperihatinkan, pasalnya tanah yang sudah dibelinya dari kerja kerasnya selama ini tak pernah ia nikmati akibat keadilan tidak berpihak kepadanya. Lelaki paruh baya tersebut berkeluh kesah tentang apa yang menimpa atas tanah miliknya kepada Tim Berita Investigasi Nasional ( BIN ), beberapa waktu lalu.

Berikut penuturan H Timbang tersebut, kepada wartawan BIN selengkapnya:

Pemilik pertama tanah tersebut atas nama US Anwar bersertifikat hak milik No,229 dengan luas 20.000 M2 dan tanah tersebut dijual kepada H Timbang pada tahun 1991 sesuai akte jaul beli No. 138/PT/PPAT/1991 dalam bentuk tanah kosong dan tanah kaplingan (P3HT). Beberapa waktu kemudian tanah persawahan H Timbang tersebut dipercayakan kepada Imanurung yang bertempat tinggal di dusun Jatie Desa Biru untuk menggarap persawahan tersebut selama kurang lebih dua tahun dan selanjutnya Imanurung menyerahkan kembali tanah/persawahan tersebut kepada pemilik sawah yaitu H Timbang pada tahun 1993.

Beberapa tahun kemudian ketika pemilik sawah ingin menggarap kembali sawah tersebut, ternyata sawah tersebut telah digarap oleh orang lain yang bernama Ganing atas perintah kepala desa.
“Saya garap atas perintah pemerintah ( kepala Desa, red),” kata Ganing, kepada H Timbang.

Mendengar keterangan tersebut, H Timbang mempertanyakan kepada Ganing bahwa apa bukti penyerahan tersebut sehingga dirinya berani menggarap.?
“Saya ada (bukti) pada anak saya yang bernama Ambo Asse,” jelas Ganing.

Akhirnya H Timbang menyuruh anaknya Basir ke rumah Ambo Asse untuk memastikan kebenaran surat tersebut. Maka Basir pun bertemu dengan Ambo Asse di rumahnya, dan Ambo Asse pun memperlihatkan surat tersebut kepada Basir, kemudian Basir pun menyampaikan kepada ayahnya ( H Timbang ) bahwa benar Ganing memiliki surat pernyataan yang ditanda tangani oleh kepala dusun Jatie yang bernama Codding serta kepala desa Biru yang bernama M Ali serta diketahui oleh Camat Poleang Timur yang bernama Sirajuddin sesuai surat tertanggal 5 September 2002.
Beberapa waktu kemudian H Timbang bersama dengan anaknya Basir menemui kepala desa di rumahnya dan diterima langsung oleh kepala desa Biru.

Ketika kepala desa di desak berbagai pertanyaan, akhirnya kepala desa pun memutuskan memanggil Ganing, namun Ganing tidak sempat datang dan hanya diwakili oleh anaknya yaituh Ambo Asse. Ketika pembicaraan semakin alot antara kedua belah pihak, Akhirnya kepala desa memutuskan agar tanah persawahan yang digarap oleh Ganing dan Ambo Asse untuk dikembalikan kembali ke Pemerintah (kepala desa, red).

Kepala desa pun menyampaikan kepada H Timbang agar kembali menggarap sawahnya tersebut, sesuai surat kepala desa tertanggal 14 September 2006 untuk menggugurkan surat sebelumnya yang dikeluarkan oleh kepala desa yang dimiliki saudara Ganing Surat pernyataan tertanggal 5 september 2002.

Sesuai petunjuk kepala desa, H Timbang yang ditemani H Sanusi bersama dengan saudara Muis pergi ke persawahan miliknya sekaligus untuk menyampaikan kepada Ganing bahwa jika ingin kembali menggarap sawah miliknya akan diberikan dengan syarat hasil panen sawah tersebut dibagi tiga dengan cara pembagian dua untuk penggarap satu untuk pemilik sawah, namun Ganing tidak berada di persawahan. H Timbang melihat Ganing di kebun coklat yang bersebelahan dengan sawah milik H Timbang.

Saat H Timbang menemui Ganing di kebun coklatnya, Sebelum H Timbang menyampaikan maksud dan tujuannya ingin mengajak bekerja sama, tiba tiba Ganing menegur dan mengancam menggunakan parang panjang dengan bahasa dan nada keras mengatakan, “aga muala lokka ma’gganggu? kkoe de’ga bulu bulummu “ (apa keperluanmu datang mengganggu? di sini tidak apa-apamu).

Untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan H Timbang bersama dengan H Sanusi serta Muis meninggalkan Ganing yang sedang terbakar emosi. H Timbang dengan H Sanusi akhirnya menemui kepala desa Biru untuk menyampaikan apa yang dialami keduanya bahwa dirinya diancam oleh Ganing dengan menggunakan parang panjang,
“Akhirnya kepala desa biru menyarankan agar saya melaporkan tentang pengancaman tersebut kepada Kepolisian Sektor Poleang Timur. Kemudian kami laporkan secara resmi saudara Ganing ke kepolisian tentang pengancaman, walaupun pada akhirnya kami dimediasi oleh pihak kepolisian melibatkan pemerintah setempat,” ungkap H Timbang.

Dan kedua belah pihak akhirnya menghasilkan kesepakatan bersama antara lain bahwa surat pernyataan tertanggal 5 September 2002 kepada pemerintah desa biru untuk diserahkan kembali kepada yang berhak dan berdasarkan surat pernyataan sekaligus pembatalan surat pernyataan tertanggal 5 september 2002 tersebut.

“Maka pada hari itu Jum’at tertanggal 7 September 2007 kami yang bertanda tangan kepala desa biru telah menyerahkan areal hamparan sawah yang telah dikembalikan oleh saudara Kening/Ambo Ase atas nama Ganing sesuai pernyataan tertanggal 01 Agustus 2007 kepada pemiliknya di hadapan para saksi yang turut bertanda tangan dalam keterangan ini,” kata H Timbang, menambahkan.

Sampai saat ini saudara Ganing Cs tidak pernah menyerahkan tanah persawahan kaplingan P3HT, 1984/1985 no,1 GS 1026/85,M229 Atas nama US Anwar Seluas 20.000 M2 dan berdasarkan akte jual beli nomor : 138 / PT / PPAT / 1991 tersebut kepada pemiliknya bahkan terkesan ingin menguasai secara paksa tanpa pemerintah bisa berbuat apa-apa.
Kepada awak media, H Timbang mempertanyakan dimana kehadiran Negara ketika rakyat secara terang terangan di rampas hak haknya ?

“Kepada Bapak Kapolri beserta jajarannya agar dapat memberikan rasa aman kepada masyarakat khususnya masyarakat Gersamata Desa Teppo’e kecamatan Poleang Timur Kabupaten Bombana Propinsi Sulawesi Tenggara,” punkas H Tambang, agar masyarakat yang dirampas hak haknya agar dapat mengolah kembali lahan mereka. (Irwan 007/tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *