Tahanan Narkoba Kabur Dari Lapas Klas IIA Balikpapan

Kepala Lapas Kelas IIA Balikpapan Edy Hardoyo
Edy Hardoyo, Kepala Lapas Kelas IIA Balikpapan

BALIKPAPAN, (BIN) – Amiruddin alias Amir Aco, seorang gembong narkoba jaringan internasional kabur dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIA Balikpapan, Selasa (18/11), sekitar pukul 03.00 Wita. Dia melarikan diri bersama rekannya, Rustam Effendi, yang juga tahanan kasus narkoba.

Keduanya lolos dari kurungan Lapas dengan menjebol plafon kamar isolasi. Setelah itu, dia mengendap-endap ke halaman belakang Lapas dan melompat tembok setinggi empat meter. Dari pantauan Kaltim Post, di bagian luar tembok Lapas terjuntai tangga dari tali plastik dan kayu. Di ujungnya terdapat jangkar untuk menyangkutkan pada ujung pagar tembok Lapas.

Di tembok bagian dalam Lapas, masih terlihat sebilah besi berukuran sekira satu meter setengah. Diketahui, besi itu berasal dari bengkel pelatihan kerja (Benker) di dalam Lapas. Diduga, besi itu digunakan Aco dan Rustam dengan cara lompat galah untuk memanjat dinding.

Aco (38) merupakan tahanan narkoba kelas berat. Tercatat, dia divonis 32 tahun atas tiga kasus. Sementara Rustam Effendi (40) tercatat divonis enam tahun penjara dalam kasus narkoba.

Kepala Lapas Klas IIA Balikpapan Edy Hardoyo menjelaskan, di ruang isolasi yang berada di belakang blok D itu, terdapat enam kamar yang dihuni satu orang di setiap kamarnya. Aco berada di kamar keenam yang bersebelahan dengan toilet, yang diawasi delapan petugas. Sedangkan Rustam di kamar pertama, terdapat pos jaga di atasnya. Namun dikatakan, tak ada petugasnya di pos pada saat kejadian.

Dari informasi yang dihimpun dalam Lapas tersebut, terdapat 517 penghuni yang semuanya adalah lelaki. “Saat jam setengah 02.30 Wita dini hari, komandan jaga masih melihat Aco sedang tidur. Kemungkinan, saat mereka kabur, petugas sedang pergi ke toilet. Kami pun baru mengetahui tahanan kabur ketika petugas membangunkan tahanan saat jam 06.00 pagi,” terang Edy .

Saat pengecekan 16 titik CCTV, ia mengatakan, tak bisa memunculkan gambar pada catatan waktu sekira pukul 01.00 Wita. “CCTV seketika rusak. Saya belum mengetahui dari mana asal kerusakan itu,” ungkapnya.

Edy melanjutkan, Aco dan Rustam diduga menggunakan suatu alat semacam tang untuk membongkar plafon. “Saya masih investigasi, kenapa alat semacam tang bisa masuk ke dalam Lapas. Yang jelas, saya sudah koordinasi dengan Kapolres, Kasat Reskoba, dan jajaran Polres Balikpapan lainnya. Juga rekan Lapas dan rutan se-Kaltim,” imbuhnya.

“Kami juga sudah panggil ibu Aco. Katanya, dia tidak tahu (Aco kabur). Orangtua Aco mengaku, terakhir mereka bertemu saat menjenguknya Minggu (16/11) lalu. Pembesuk Aco lainnya adalah sahabat dan saudaranya,” ujarnya.

Perlu diketahui, Aco memiliki tinggi badan 157 cm. Terakhir kabur mengenakan pakaian bebas yang belum diketahui persis warna bajunya. Sementara Rustam memiliki tinggi badan 160 cm. Kulitnya sawo matang dengan tato di lengan, dada, dan punggung.

Alamat orangtua Aco di Jalan Inpres I, RT 01 Kelurahan Muara Rapak Balikpapan Utara. Sedangkan Rustam di Jalan Soekarno-Hatta Km 3, RT 38, Kelurahan Batu Ampar Balikpapan Utara.

Menurut Ketua Gerakan Anti Narkotika (Granat) Kaltim Kiki Asikin SH bukan hal yang mengejutkan. “Ya, saya nggak kaget dan nggak heran kalau Aco lari. Sudah lama saya dapatkan informasi dari dalam yang sumbernya sangat dipercaya, bahwa pengamanan Aco sangat longgar. Napi kelas kakap itu bebas keluar dari tahanannya.

Ini kan aneh. Ada apa ini?,” ujar Kiki bernada menyindir, Selasa (18/11) siang kemarin. Tak tanggung-tanggung, Kiki mencurigai pelarian Aco diseting atau sudah diskenario oknum tertentu. Hal tersebut terlihat dari alat yang dipakai, tangga kayu dililit tali nilon. “Untuk mendapatkan kayu sebanyak itu, Aco gak mungkin bisa kalau nggak dibantu orang-orang yang bersekongkol dengannya.(abt/akn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *