BINPERS

Berita Investigasi Nasional

Pemerintah Aceh Harus Serius Tanggapi Sistem Interkoneksi

Rafly
Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Aceh, Rafli Kande

Banda Aceh, (BIN) – Listrik merupakan sebuah kebutuhan mendasar bagi masyarakat umumnya, namun fenomena yang terjadi setiap saat bagi masyarakat adalah tersendatnyanya distribusi arus yang kurang normal, sering “Nyala-Padam”, lalu bagaimana nasib Aceh kedepan bila masalah listrik ini terus dibayang-bayangi oleh kondisi kekurangan suplai arus listrik?

“Inilah salah satu PR bagi pemerintah Aceh yang harus difikirkan dan dipecahkan,” ungkap Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Aceh, Rafli Kande kepada media BIN.

“Sistem interkoneksi jaringan listrik di Aceh sudah selayaknya dibangun agar punya prospektif, sebab kebutuhan listrik ini bukan merupakan kebutuhan sesaat yang sifatnya sementara, namun yang kita dapatkan hingga saat ini hanya kenyataan yang ironis. Sudah seharusnya Gubernur Aceh menyikapi lebih serius,” ujar Rafli pada wartawan, Jum’at (14/11/2014) kemarin di Banda Aceh.

Dalam kunjungan kerjanya ke Aceh, ia bertujuan untuk menyerap aspirasi masyarakat serta melihat persoalan-persoalan yang mendasar dan strategis, seperti masalah yang menyangkut hajat hidup orang banyak, yaitu masalah listrik. Rafli sebagai salah satu perwakilan dari Aceh menilai bahwa permasalahan yang disebutkannya sebagai sebuah nasib Aceh yang ironis adaah masalah yang berkaitan dengan penyediaan dan pensuplaian energi listrik, yang ia maksudkan adalah suatu wilayah yang dekat dengan sumber penyediaan listrik tidak bisa mendapat suplai arus listrik.

Menurut Rafli yang juga seniman Aceh ini, keluhan dan pengaduan masalah listrik tidak pernah habis, karena sangat diperlukan sebuah perencanaan komprehensif dari pemerintah Aceh secara terpadu dan menyeluruh agar masalah kelistrikan di Aceh bisa segera teratasi.

“Memang bila kita lihat peta jaringan interkoneksi listrik untuk Aceh ada dari Belawan Sumatera Utara dan wilayah yang tidak terpetakan dalam jaringan tersebut sangat sulit mendapat pasokan arus listrik, seperti PLTU Nagan Raya, tidak bisa menyuplai daya listrik untuk kota Meulaboh dan hal ini disebabkan sistem interkoneksinya yang sedemikian sesuai dengan garis pemetaannya, begitu sebut Rafli Kande yang mantan penyanyi Aceh tersebut.” kata Rafli membeberkan.

Ia juga menambahkan bahwa masalah listrik ini dulunya sudah pernah dibahas dengan General Manager (GM) PT PLN Wilayah Aceh Ir Sulaiman. Menurut General Manager (GM), PLN terkendala dengan masyarakat yang kurang berpastisipasi, hal ini menyangkut persoalan ganti rugi lahan yang akan dibangun tower interkoneksi dan ini merupakan persoalan non-teknis saja.

“Berapa pun nilai yang wajar untuk ganti rugi akan dipenuhi kata General Manager (GM) PT PLN Wilayah Aceh. Jadi, bila ada kesadaran masyarakat akan arti pentingnya listrik, maka persoalan nonteknis di lapangan pasti bisa teratasi,” ujar Rafli.

Melalui Media ini, Rafli juga tidak sepenuhnya menyalahkan masyarakat, terutama pemilik lahan, tapi Anggota Komisi II DPD RI ini sangat mengharapkan kepada Pemerintah Aceh untuk berperan aktif dalam hal penanganan persoalan kelistrikan ini demi kemajuan Aceh dimasa yang akan datang.(SAF/BIN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *