KUR Vs Kredit ala Koperasi “SANGKAKALA” di Banggai

Mr.TKLuwuk, SULTENG, (BIN) – Kesejahteraan adalah hal mendasar yang selama ini ramai dibicarakan baik oleh masyarakat, pelaku ekonomi, pelaku politik dan pelaku birokrasi. Namun sebagaimana fenomena yang tumbuh dan berkembang di masyarakat secara umum, dapat diambil kesimpulan bahwa kesejahteraan hanyalah bagian dari wacana yang sampai saat ini belum terpecahkan.

Masyarakat dengan standar ekonomi dibawah rata-rata berusaha sekuat tenaga mencurahkan tenaga dan fikiran dengan harapan terpenuhinya kebutuhan hidup. Namun yang diperoleh terkadang jauh dari harapan. Semua ini terjadi karena faktor biaya dan kemampuan sumber daya manusia (SDM) yang terbatas sehingga kesulitan dalam mengelola management usaha ekonomi baik sektor pertanian, perkebunan dan usaha-usaha produktif lainnya.

Pemerintah pusat juga telah mengeluarkan kebijakan yang berazaskan ekonomi kerakyatan demi meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) bekerja sama dengan perbankkan (BRI). Hal ini semata-mata demi tercapainya kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Namun bagai pepatah “berburu ke padang datar mendapat rusa belang di kaki”. Kenyataan masih jauh dari harapan.

Salah satu diantara fenomena ketidak berhasilan tersebut dapat dilihat dari fakta di lapangan dimana masyarakat belum sepenuhnya memahami dan menerima program KUR tersebut secara menyeluruh. Sebagai contoh di daerah Kab.Banggai muncul penanam modal melalui pinjaman Kredit ala Koperasi. Penyalurannya juga sangat mudah bahkan terkesan tanpa basa-basi. Hanya dengan modal foto copy KTP peminjam, dana langsung cair. Kredit ala Koperasi tersebut dikenal dengan sebutan SANGKAKALA. (Wahh…dari namanya saja sudah ngeri karena identik dengan nama dari sebuah bunyi tanda-tanda hari kiamat, red).

Kredit ala koperasi tersebut bila dilihat dari tingkat suku bunga pengembaliannya sangatlah tinggi, sekitar 30%. Jika pinjam 500.000 cicilannya 65.000/bln selama 10 bln.

Hal yang perlu menjadi perhatian kita, khususnya pemerintah yakni mengapa SANGKAKALA dengan suku bunga yang tinggi bisa dijadikan primadona masyarakat sedangkan program pemerintah (KUR) tidak begitu mendapat perhatian. Kalaupun ada jumlahnya pun tidak menyaingi nasabah Kredit Sangkakala. Apa yang salah dalam hal ini ??

Saat ditemui di kediamannya, seorang warga sebut saja Bintang (nama samaran, red) yang kebetulan adalah nasabah Koperasi Sangkakala mengungkapkan perasaannya. “Saya suka jadi nasabah Sangkakala karena prosesnya yang mudah, sedangkan menjadi nasabah KUR prosesnya begitu rumit,” kata Pak Bintang dengan nada keluh.

Belum lagi, kata Bintang, waktu yang diperlukan untuk pengurusan kredit KUR kadang bisa memakan waktu sekitar 1 atau 2 bulan. Sedangkan proses pengurusan permintaan kredit sangkakala cukup menggunakan waktu 10 s/d 30 menit.

“Katanya kebijakan pemerintah bertujuan untuk memberikan pelayanan yang prima kepada masyarakat namun kenyataan malah pelayanan yang penuh liku-liku,” ujarnya.

Perlu diketahui, Kalau ditelaah dari segi hukum, jelas bahwa KUR bersifat Legal sedangkan Kredit Sangkakala sifatnya illegal. Illegal karena sebagian besar pebisnis bidang perkreditan ini tidak memiliki izin resmi bahkan dengan suku bunga yang tinggi dapat dikategorikan rentenir. Masalahnya adalah pemerintah setempat seakan-akan tidak memiliki mata dan telinga sehingga pergerakan usaha-usaha illegal nyaris tidak terdeteksi. Sungguh Negara yang kita cintai ini mau dikemanakan kalau pejabat yang diangkat hanyalah pejabat yang cuma mengurus kepentingan pribadinya sendiri sementara urusan kepentingan negara dan bangsa ditempatkan pada urutan terakhir.

Semoga dengan diterbitkannya berita ini, dapat menjadi dasar pemikiran pemerintah tingkat atas sehingga Kab.Banggai kedepan benar-benar bersih dari praktek-praktek illegal dan permainan simulasi ala jalan berliku dengan dalih prosedur dapat ditekan sehingga masyarakat akan terlayani dengan baik. (Tambrin-BIN)

Editor: Lucky’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *