Kembangkan Teknologi Padi Salibu Untuk Turunkan Angka Kemiskinan

Kepala BP3K : Pertama diterapkan di Masyarakat Indonesia

Kepala BP3K Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim, Maman Suherman SP, Jumat (28/11), (Foto : Aldo/BINPERS.COM
Kepala BP3K Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim, Maman Suherman SP, Jumat (28/11), (Foto : Aldo/BINPERS.COM

Muara Enim, SUMSEL, (BIN) – Untuk meningkatkan jumlah produksi padi gabah kering, Balai Penyuluhan Perikanan Pertanian Kehutanan (BP3K) Desa Pandang Enim, Kecamatan Tanjung Agung, mengembangkan teknologi tanam padi salibu (bertunas).

“Banyak manfaat dengan menanam padi dengan menggunakan teknologi salibu, pastinya masa panen lebih lama, dan dengan harapan bisa menurunkan angka kemiskinan di Kecamatan Tanjung Agung,” ujar Kepala BP3K Desa Pandang Enim, Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim Maman Suherman, kepada BINPERS.COM di sela aktifitasnya, jumat (28/11).

Disebutkannya pada teknologi padi salibu petani memanfaatkan teknologi dengan menghidupkan tunas yang sudah ada (tanpa dipotong/memanfaatkan tanaman padi lama), tidak perlu mengolah tanah, umur hemat 45 hari yang mana biasanya 125 hari bisa panen menjadi 85 hari atau setahun 3 kali panen menjadi 6 kali panen.

“Saat ini dicoba pada lahan seluas 1 hektar dan memasuki usia 35 hari, lebih kurang 50 hari lagi masuk masa panen. Dan bisa menghasilkan pada setiap tahunnya per hektar produksi gavah kering sebanyak 6,8 ton / hektar lebih banyak dari biasa yakni 6,2 ton / hektar. Dalam artian ada peningkatan produksi 4800 hektar,” ulasnya.

Menurut Kepala BP3K yang juga membawahi Kecamatan Lawang Kidul pada 2015 diprogramkan melalui dana Anggaran Pengeluaran Belanja Negara (ABPN) Tahun Anggaran 2015 akan melakukan penanaman padi teknologi salibu seluas 200 hektar untuk lokasi di Kecamatan Tanjung Agung meliputi Desa Muara Emil seluas 100 hektar, kemudian Desa Embawang, Desa Tanjung Bulan, Desa Lebak Budi dan Desa Sugi Waras masing – masing seluas 25 hektar.

“Teknologi ini selain pertama di Sumatera Selatan, juga pertama diterapkan di masyarakat di Indonesia, meskipun pernah diterapkan di Indonesia baru dilakukan di Balai Pertanian Sumatera Barat,” ungkapnya.

Diharapkannya dengan teknologi padi salibu nantinya bisa menurunkan angka kemiskinan di Kecamatan Tanjung Agung, dimana saat ini angka kamiskinan tercatat 3982 kepala keluarga (KK), bisa mengikis angka kemiskinan sebanyak 500 KK melalui peningkatan pangan dengan teknologi padi salibu.

Kontributor: Aldo

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *