Kejati Jambi Kumpulkan Bukti Dugaan Korupsi Alkes Unja

kantor-kejati-jambiJambi,(BIN) – Setelah ditetapkannya Rektor Unja Prof.Drs.Aulia Thasman,Msc,Phd sebagai tersangka dugaan korupsi Alat Kesehatan (Alkes) Universitas Jambi (Unja) oleh Kejaksaan Tinggi Jambi pada Juli silam, kini Kejati mengumpulkan bukti-bukti dari beberapa Instansi Pemerintah guna kelengkapan berkas Perkaranya. Hal ini dikatakan Kajati melalui Kasidik Kejati Imran Yusuf, SH.MH diruang kerjanya, Senin(17/11) silam.

”Sekarang progresnya masih mengumpulkan bukti untuk melengkapi berkas perkaranya, termasuk sekarang dalam tahap Konsultasi ke BPK-P, untuk perhitungan berapa kerugian Negara,” ujarnya pada media BIN.

Sebelumnya aroma busuk dugaan korupsi Alkes Unja ini sudah tercium jauh sebelum Rektor Unja tersebut ditetapkan tersangka dugaan korupsi Alkes Unja oleh Kejati pertengahan Juli lalu, dimana saat itu Aulia Thasman selalu berkelit mengatakan bahwa, “ lelang pengadaan Alkes tersebut sudah sesuai prosedur dan tidak ada masalah,” ujar Aulia Thasman ketika dikonfirmasi secara lisan awal Januari 2014 silam.
Namun anehnya sang Rektor kala itu menolak mengatakan dimana ditempatkan atau digunakannya Alat Kesehatan tersebut, sebab Rumah Sakit Pendidikan Universitas Jambi tersebut hingga kini masih mangkrak alias terbengkalai. Dan pada tanggal 15 Januari media BIN mengirim konfirmasi tertulis pada Rektor Unja tersebut.

Penelusuran media BIN terkait dugaan korupsi Alkes Unja awal Januari 2014 silam berawal ketika hasil lelang menetapkan PT.Panca Mitra Lestari (PML) ditunjuk sebagai pemenang sesuai Surat Penunjukan Penyedia Barang dan Jasa (SPPBJ) nomor 11/UN21.9.3.3.4/PPK/2013, tertanggal 21 November 2013 silam dengan nilai Rp.19.685.220.500, dana yang bersumber dari APBN Tahun 2013 tersebut.

Teguh, salah seorang staf di PPK Alkes tersebut ketika dikonfirmasi 3 Maret 2014 silam mengatakan, BPK-P sudah datang mengaudit awal Februari lalu, namun menurutnya hasil audit BPK-P tersebut dinilainya positif dan tidak ada masalah dengan Alkes tersebut. Namun berselang satu bulan setelah audit BPK-P, tepatnya 4 Maret 2014 seluruh anggota panitia lelang alkes tersebut dipanggil pihak Kejaksaan Tinggi Jambi untuk dimintai keterangan.

Alkes Pendidikan Unja ini terkesan pengadaannya dipaksakan, bagaimana mungkin Alkesnya diadakan pelelangannya 21 November 2013 silam sementara rumah sakit Unja tersebut jauh-jauh hari sudah terbengkalai. Dan dalam kasus inipun Sang Rektor lama sudah jadi terpidana dalam kasus mangkraknya Rumah Sakit Pendidikan unja tersebut.

Bukan Aulia Thasman namanya jika tidak pandai berkelit, hasil pemeriksaan Kejati terhadap Rektor April 2014 silam, Aulia Thasman masih bisa berkomentar bahwasannya Alkes tersebut diletakkan dibawah tangga alias tidak dipakai, artinya sudah empat bulan alat kesehatan tersebut mengendap dibawah tangga dan tidak dilakukan uji fungsi semenjak hasil lelang 2013 silam. Ada apa, ataukah alat tersebut didatangkan dengan dadakan sebab sudah terendusnya Dugaan korupsi memanipulatif Alkes tersebut? dan menurut Aulia Thasman barang tersebut sudah sesuai dengan Spek.

Pada pertengahan Juli silam Kejaksaan Tinggi Jambi menetapkan Rektor Unja Aulia Thasman sebagai tersangka dugaan korupsi Alkes tersebut, dan kini pihak Kejaksaan telah mengumpukan bukti-bukti guna melengkapi berkas perkaranya. Menurut informasi, kejaksaan Tinggi sudah melakukan ekpose di Jakarta, hal ini dibenarkan pihak Kejati melalui Kasidik Kejati Imran yusuf SH.MH.

Imran Yusuf menjelaskan, ekpose di Jakarta itu adalah rutinitas perkara-perkara yang menarik perhatian, dan dipaparkan di hadapan Pimpinan. “Hasil ekpose disana ternyata mempertanyakan sejauh mana perkembangan penyidikan kasus ini,” ujar Imran Yusuf pada media-BIN. (Ranto)

Editor Media binpers.com

Berita terkait

Leave a Comment