ALLAH AKAN MENJAGA ORANG SHALIH BAHKAN SAMPAI KETURUNAN KE 7

tahajjud
Foto: Ilustrasi

Apakah kita merasa bahwa putra putri kita terkadang malas beribadah dan sulit diatur? Jika iya maka jangan buru-buru mencari kambing hitam, bahkan carilah kesalahan itu pada diri sendiri. Apakah kita sudah mendidiknya dengan benar dan memberikannya contoh? Apakah nafkah yang kita berikan untuknya adalah harta yang halal dan terbebas dari syubhat bahkan yang haram?

Ketahuilah bahwa secara keumuman diantara rusaknya agama seorang anak karena rusaknya agama orangtua. Ketahuilah juga bahwa keshalihan orangtua adalah salah satu hal utama yang akan berpengaruh pada keshalihan anak. Begitu pula makanan dan minuman yang halal lagi berkah juga akan berkontribusi pada akhlak dan keshalihan sang anak.

Lihatlah perkataan dari Abul Hasan Isma’il bin Ibrahim rahimahullah, ayahanda dari imam al-Bukhaariy seperti diceritakanoleh Ahmad bin Hafsh:

دَخَلْتُ عَلَى أَبِي الْحَسَنِ إِسْمَاعِيْلَ بْنَ إِبْرَاهِيْمَ عِنْدَ مَوْتِهِ فَقَالَ: لاَ أَعْلَمُ فِي جَمِيْعِ مَالِي دِرْهَماً مِنْ شُبْهَةٍ

“Aku masuk menemui Abul Hasan Isma’il bin Ibrahim tatkala ia hendak meninggal. Maka beliau berkata, “Aku tidak mengetahui di seluruh hartaku ada satu dirham yang aku peroleh dengan syubhat”

(Taariikh At-Tobari 19/239 dan Tobaqoot Asy-Syaafi’iyyah Al-Kubro 2/213)

Keshalihan orangtua selain berpengaruh terhadap keshalihan anak, para ulama juga menjelaskan bahwa orang-orang yang shalih bahkan akan dijaga anak dan keturanannya sampai keturunan ke tujuh.

Allah tabaaraka wata’alaa berfirman di dalam AlQur’an:

وأما الجدار فكان لغلامين يتيمين في المدينة وكان تحته كنز لهما وكان أبوهما صالحا فأراد ربك أن يبلغا أشدهما ويستخرجا كنزهما رحمة من ربك وما فعلته عن أمري ذلك تأويل ما لم تسطع عليه صبرا

“Wa amma al-jidaaru fa kaana li ghulamaini yatiimaini fii al-madiinati wa kaana tahtahu kanzul lahumaa wa kaana abuu-humaa shoolihan fa arooda robbuka an yablughoo asyudda humaa wa yas takhrijaa kanza humaa rohmatam min robbik”

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang Ayahnya adalah seorang yang saleh, Maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu” (QS Al-Kahfi : 82)

Al-Haafiz Ibnu Katsir rahimahullah berkata :

وقد قيل إنه كان الاب السابع وقيل العاشر. وعلى كل تقدير فيه دلالة على أن الرجل الصالح يحفظ في ذريته

“Dikatakan bahwa ayah (yang tersebutkan dalam ayat di atas) adalah ayah/kakek ketujuh, dan dikatakan kakek yang kesepuluh. Dan apapun pendapatnya (kakek ke 7 atau ke 10) maka ayat ini merupakan dalil bahwasanya seseorang yang sholeh akan dijaga keturunannya” (Al-Bidaayah wa An-Nihaayah 1/348)

Lihatlah bagaimana Allah ‘Azza wa Jallaa menjaga sampai keturunan yang ketujuh karena kesholehan seseorang.

Semoga Allah menjadikan diri kita orang-orang yang shalih dan selalu menjaga anak dan keturunan kita, dan menyampaikan kita pada rahmat ridha serta CintaNya.

اَمِيـْنْ يَـارَبَّ الْعَـالَمِيْــ …





Wallahu a’lam bishawab

Abu Nida Ummu Nida

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *