Wakil Bupati MATIM Tolak Tanda Tangan Pernyataan Penghentian Aktifitas Pertambangan

Foto: Wakil Bupati Matim menerima massa tolak tambang
Foto: Wakil Bupati Matim menerima massa tolak tambang

Manggarai Timur-NTT, (BIN) – Wakil Bupati Manggarai Timur (Matim), Agas Andreas, menolak untuk menandatangani surat pernyataan dari pengunjuk rasa tolak tambang. Isi surat pernyataan tersebut adalah keputusan untuk menghentikan aktifitas pertambangan di kabupaten Matim.

Senin (13/10) sekira 700-an pengunjuk rasa yang terdiri dari para pastor, frater, suster dan warga masyarakat dari 28 Paroki di wilayah Kevikepan Borong kabupaten Matim, menggelar aksi damai di kantor Bupati Matim, puluhan mahasiswa STKIP St. Paulus Ruteng bergabung dalam aksi tersebut.

Sebelum ke kantor Bupati Matim di Lehong, pengunjuk rasa berkumpul di Aula Kevikepan Borong untuk beribadat sabda dan sekaligus mendengar arahan dari Romo Vikep Borong, Simon Nama, Pr. sekaligus koordinator aksi. Romo Simon Nama, Pr. dalam arahan di Aula Kevikepan sebelum melakukan aksi,mengatakan, para imam, suster, frater atau pihak gereja tidak mempunyai kepentingan dalam kegiatan aksi tolak tambang, tapi tujuannya hanya demi keselamatan alam. Selain itu, agar martabat manusia dilindungi. Dengan itu Romo Vikep Borong mengajak seluruh masyarakat di kabupaten Matim untuk satukan hati tolak tambang. Tuhan telah menitipkan alam kepada manusi untuk dijaga demi keselamatan dan kebahagian

“Kita satukan hati untuk tantang kegiatan tambang. Jangan pernah mundur, tujuan sampai darah terakhir. Tugas mulia dari Tuhan kepada kita untuk jaga alam. Kita berjuang sampai tambang berhenti aktifitasnya”. Ungkapnya.

Selanjutnya demonstran berorasi keliling Kota Borong dengan menggunakan puluhan kendaraan roda empat dan roda dua menuju ke Kantor Bupati di Lehong.

Di Lehong, pengunjuk rasa diterima langsung oleh Wakil Bupati Matim Agas Andreas, di depan kantor Bupati Matim yang dijaga ketat oleh pihak keamanan dari Pol PP Matim, Brimob dan pihak Kepolisian Polres Manggarai. Sebelum berorasi dan menyampaikan pernyataan sikap, pengunjuk rasa melakukan ibadat sabda di halaman depan kantor Bupati Matim.

Ada Empat pernyataan Point Pernyataan sikap dari pengunjuk rasa yang dibacakan oleh Romo, Inosius Mansur, Pr. Untuk Bupati Matim. Pernyataan sikap tersebut yakni pertama segera mencabut segal izin tambang mineral yang ada di Matim. Kedua, pencabutan izin pertambangan di Matim mesti dilakukan secepatnya dan selambat-lambatnya satu bulan

Ketiga, bila tuntutan ini tidak ditindaklanjuti, maka akan ada gerakan yang lebih masif dan berkelanjutan sampai tuntutan terpenuhi. Keempat, mengusakan perbaikan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di wilayah lingkar tambang dan merehabilitasi hak-hak dasar korban tambang.

Usai berorasi, perwakilan dari pengunjuk rasa menyerahkan pernyataan sikap ke Wakil Bupati Matim Agas Andreas. Saat bersamaan Pater Simon Suban Tukan menyerahkan surat pernyataan untuk menghentikan aktifitas tambang di kabupaten Matim dari pemerintah kabupaten Matim, tapi langsung ditolak oleh Wakil Bupati Agas Andreas.

Di depan pengunjuk rasa Wakil Bupati Matim Agas Andreas, mengatakan dengan tegas tidak mau menandatangani surat pernyataan tersebut. Kata Agas, dirinya yang pasti menerima petisi dari pengunjuk rasa dan selanjutnya petisi itu akan dipelajari dan dibahas bersama oleh pemerintah kabupaten Matim untuk bisa diambil sebuah keputusan.”Saya terima petisi, tapi saya tidak akan tanda tangan surat pernyataan itu”. Tegas Agas. (FR.Yos Syukur)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *