Ulama Sumsel Ingatkan Warga Waspadai Aliran Sesat

“Diduga ada oknum Pejabat Menjadi penganut AKI”

Sumatera Selatan, (BIN) – Salah satu Ulama kharismatik di Sumatera Selatan, KH Amin Dimyati Hamza, kembali mengingatkan seluruh umat muslim di Sumatera selatan agar lebih mewaspadai kegiatan keagamaan yang sudah masuk katagori sesat dan menyesatkan.

Foto: ilustrasi
Foto: ilustrasi

Badan Kesbangpol Linmas Pemprov Sumsel juga membenarkan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang telah menetapkan aliran Amanat Keagungan Illahi (AKI) sesat dan dilarang di Sumsel.

Maka sebagai tindak lanjutnya, Pemprov Sumsel juga telah mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) atas hal tersebut. Jika masih terus dijalankan, aliran AKI akan berurusan dengan pihak berwajib, yakni dibubarkan paksa dan dikenakan tindak pidana.

Hal ini disampaikan KH Amin dalam menghadiri acara pisah sambut Kapolda Sumatera selatan beberapa waktu lalu di istana Gubernur griya agung. Aliran Amanat Keagungan Illahi (AKI) yang tumbuh di Sumatra Selatan (Sumsel), sesat karena penyimpang dari agama Islam. Berdasarkan penelitian tim Komisi Pengkajian. Mereka menyalahi rukun Islam, termasuk ritual menyembelih kambing sebagai penebus dosa serta tidak mewajibkan pengikutnya shalat dan puasa sehingga ajaran itu menyimpang dari agama Islam.

KH Amin Dimyati Hamza
KH Amin Dimyati Hamza

“ Aliran Amanat Keagungan Illahi (AKI) yang beredar dinyatakan sesat oleh MUI. pada tahun 1993 AKI juga telah difatwa sesat oleh MUI. Adapun dasar fatwa sesat terhadap aliran AKI diantaranya AKI tidak mewajibkan bagi umat AKI untuk diwajibkan sholat dan Puasa, selain itu tidak menjadikan Al-Qur’an dan Hadist sebagai pedoman hidup melainkan berpedoman kepada imam yang tidak merujuk pada hukum Islam,” ungkap KH Amin.

Dalam komentarnya yang lain, KH Amin menjelaskan, kewaspadaan ini sangat perlu ditingkatkan seluruh masyarakat Sumatera selatan, mengingat sekarang ini sudah ada indikasi ada oknum pejabat yang masuk dan menganut ajaran AKI, Bahkan lanjut KH Amin, masyarakat masuk AKI tersebut yang selama ini menunaikan shalat dan puasa ternyata setelah bergabung tidak lagi.

Oknum pejabat yang menganut aliran AKI, dapat dilihat dari cara ibadah oknum pejabat tersebut ketika melaksanakan sholat jum’at, kalau Masyarakat atau pegawai yang tidak mengetahui kemana pemimpinnya ketika sholat jum’at dilangsungkan sebagai suatu kewajiban agama yang dianutnya maka patut dipertanyakan dan masyarakat juga dapat melaporkan anggota AKI tersebut kepada pihak berwajib atas tuduhan meresahkan masyarakat apalagi sebelumnya AKI telah diputus oleh kejasaan sebagai aliran yang dilarang.

Namun ajaran tersebut diduga sampai sekarang masih berlangsung di berbagai daerah di Sumatera selatan khususnya Kota Palembang, KH Amin yang juga tercatat sebagai pengurus MUI akan terus melakukan investigasi juga mendesak kepada pihak terkait untuk melakukan pembinaan dan kepada umat AKI untuk segera bertaubat jika terus mengatasnamakan Islam. Pasalnya AKI saat ini telah meresahkan masyarakat dan dianggap sebagai penodaan agama.

Modus penyebaran ajaran ini adalah melalui pengobatan orang-orang yang sakit. “Setelah sembuh, mereka mengikuti ajaran Amanat Keagungan Ilahi (AKI). KH Amin menyatakan AKI menyebarkan berbagai poster. AKI dinilai mencampuradukan ayat-ayat Quran dengan tulisan lain yang tidak diketahui maknanya. Akibatnya, kata KH Amin, tulisan itu mencampuradukan ajaran agama Islam dan menodai agama.

Terkait alairan ini Mahkamah Agung pernah menolak kasasi yang diajukan terdakwa kasus penodaan agama, pemimpin Amanat Keagungan Ilahi (AKI), Andreas Guntur. Mahkamah Agung menjatuhkan vonis yang sama di tingkat pertama Pengadilan Negeri Klaten, yakni vonis empat tahun penjara.

Hakim MA menilai terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana melanggar Pasal 156 a huruf a KUHP. Sebelumnya, di Pengadilan Negeri Klaten, Andreas Guntur juga divonis empat tahun penjara. Vonis maksimal tersebut sesuai dengan tuntutan jaksa penuntut yang meminta Andreas dihukum empat tahun penjara.

Ketika itu Jaksa menilai ada ajaran menyimpang kelompok ini karena mengakui adanya wahyu yang diberikan melalui malaikat Jibril terhadap almarhum Muhamad Syamsoe. Guntur sendiri menerima ajaran AKI dari Syamsoe. Jaksa menyatakan terdakwa mendapatkan ajaran itu dari Jakarta. Setelah itu, ia menyebarkan di Kampung Kanjengan, Bareng, Klaten.

Harun salah satu pengukut aliran ini pernah menuturkan bahwa dirinya mengenal AKI di Palembang tahun 1980 dan sejak itu rumahnya kerap jadi tempat silaturahmi AKI. Kemarin ia mempraktikkan proses pembaiatan AKI di musala dalam rumahnya.

Calon anggota dipegang dua tangannya, kemudian diangkat seperti berdoa, dan diusapkan ke wajah. Diantaranya ia membimbing melafazkan kalimat Wallahi Allahuakbar. Demi Allah, Rasulullah. Orang tersebut diangap telah masuk Islam.

Selain itu aliran ini melakukan pengajian tiga kali dalam sebulan, ritual di malam tahun baru, tidak berdasarkan Alquran dan hadis, semua agama boleh datang. “Mereka ini siapa yang mendapat ilham, ditulis tanpa dasar dan dalil agama Islam,” kata KH Amin.

Aliran Amanat Keagungan Ilahi (AKI) yang sesat memiliki anggota hampir mencapai 200 jamaah yang telah menyebar di kota Palembang, kabupaten seperti Lahat, Muara Enim dan Ogan Komering Ulu Timur (OKUT), tambah dia.

Aliran AKI sudah ada sejak 35 tahun lalu,. Sampai saat ini yang jelas MUI sudah mengeluarkan fatwa soal aliran AKI adalah sesat. Pada tahun 2009 Pemerintah Kota Palembang sudah membekukan aktivitas ritual Aliran Amanat Keagungan ilahi (AKI) yang dinilai menyimpang.

Komisi Pengkajian juga pernah memperkuat data dengan mendatangi rumah Harun Al Rasyid (66), tokoh AKI di kawasan Macan Kumbang III. Harun membantah AKI sebagai aliran dan sesat. Ia mengaku tidak mengenal Izzedin alias Muhidin alias Djidin (49), imam besar AKI di Sako. Namun keterangan Izzedin bahwa ajaran tersebut tidak menyimpang dengan ajaran Islam. Namun demikian MUI, Depag, dan instansi tidak langsung percaya dengan keterangan tersebut, dan melakukan penelitian dengan mengambil keterangan dari pengikut dan warga.

Berbicara tentang aliran sesat sama dengan berbicara tentang gerakan misionaris, karena gerakan aliran sesat adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan dengan gerakan misionaris. Mengapa, karena sutradara dibalik itu semua adalah sang misionaris, diduga tujuan utamanya adalah menghancurkan Islam.

Sangat jelas kalau kita memperhatikan hasil konferensi misionaris di Al-Kud tahun 1936, seorang yahudi yang diangkat menjadi direktur misionaris internasional bernama Samuel Zuimmer menyampaikan satu konsep yang sampai sekarang konsep tersebut masih dijadikan primadona program misi, konsep tersebut adalah “ Untuk memurtadkan kaum Muslimin adalah dengan 2 [dua] strategi yaitu dengan strategi pembinaan dan penghancuran”.

Pembinaan artinya kaum Muslimin dimurtadkan dengan berbagai cara lalu dibina di gereja, penghancuran artinya jika kaum Muslimin sulit untuk dipindah agamakan maka dihancurkan dengan 4 mesin penghancur, yaitu dengan Gaul (Generasi Anti Ulama) dengan sasaran ABG, LUAG (Lenyapkan Ulama Anti Gereja) dengan sasaran para aktivis yang mereka sebut ulama dengan cara dicitra burukan nama baiknya atau gerakannya, perbedaan menjadi perpecahan dengan sasaran jama’ah yang berbeda fiqih ibadah serta Membuat kemelut intern kaum muslim dengan membuat aliran sesat.

Pada poin 4 diatas sangat jelas bahwa aliran sesat adalah strategi memurtadkan kaum Muslimin dengan membuat kemelut intern, coba lihat seluruh aliran sesat baik Ahmadiyah, aliran Lia Eden,AKI, HDH, Dan lain-lain semuanya mengaku Islam tetapi ajarannya menyimpang dari Syari’at Islam dan kalau ditelusuri ujung-ujungnya adalah misionaris.

Sekarang muncul di permukaan aliran Amanah Keagungan Ilahi (AKI) aliran ini mencoba menggabungkan semua agama sehingga anggotanya berasal dari berbagai agama, suatu ajaran yang dikembangkan oleh Moch. Syamsu atau dikenal dengan panggilan Aki Syamsu, pada tahun 1979 Moch. Syamsu mengembangkan Aliran Kepribadian di Jawa barat yang pada saat itu Moch. Syamsu berdomisili di Bandung.

Aliran Kepribadian yang dikembangkan oleh Moch. Syamsu ternyata mencampur adukan antara beberapa agama/kepercayaan bahkan melakukan praktek ajaran Aliran Kepribadian secara bersama-sama antara pemeluk Agama Islam dengan agama/kepercayaan lainnya, Pada tahun 1982 Moch. Syamsu pindah ke kab. Serang dan disana mengembangkan ajaran Taqwa yang ajarannya sama dengan ajaran Aliran Kepribadian, dan Kajari Serang melarang aliran Taqwa tersebut dengan SK nomor : Kep-002/K.2/22-2/82 tanggal 24 Pebruari 1982.

Pada tahun 1991 Moch. Syamsu kembali menyebarkan ajarannya di kab. Subang dan Purwakarta dengan menggunakan nama Amanah Keagungan Ilahi (AKI) dibantu murid-muridnya yang ternyata ajarannya tidak berbeda dengan ajaran/aliran yang dikembangkan oleh Moch. Syamsu sebelumnya, Kajari Subang dan Kajari Purwakarta telah melarang ajaran Amanah Keagungan Ilahi [AKI] masih-masing dengan SK Kajari Subang nomor : Kep-01/K2.24/Dsk.3/5/91 tanggal 1 Mei 1991, dan SK Kajari Purwakarta nomor : Kep-525/K2.20.2/Dsk.3/5/1991 tanggal 30 Mei 1991.Dan ahirnya Kajati Jabar mengeluarkan Surat nomor : R.538/P2.3/Dsb.1/11/1993.

Menghadapi Aliran AKI harus hati-hati karena mereka licin dalam berstrategi, mereka selalu memperlihatkan sebuah wirid yang bertuliskan arab dan 12 tata tertib padahal didalamnya adalah benar-benar ajarannya menyimpang dari syari’at Islam. Mereka punya PROTAP yang dijadikan seolah-olah kitab suci, PROTAP ini disusun oleh Andreas salah seorang murid Moch. Syamsu ang sekarang menggantikan posisi Moch. Syamsu karena Moch. Syamsu sudah meninggal.

Meski sudah dilarang ternyata sampai sekarang ajaran AKI baik namanya AKI atau nama lain masih tetap ada bahkan berkembang tidak hanya di Jawa barat tetapi sudah menembus pulau Sumatra, AKI kubu Andreas untuk pulau jawa berpusat di Bandung dengan dipimpin oleh Fargana yang oleh masyarakat sekitarnya disebut Ust. Fargana karena dia pandai menyembunyikan diri dengan aktif di masjid dan melakukan aktivitas dakwah dibalik ajaran sesatnya, untuk Sumatra berpusat di Palembang dan untuk keseluruhan berpusat di Jakarta, untuk kubu Kurnia Wahyu dan Syarif berpusat di Bandung.

Menurut salah seorang penganut yang tidak mau disebutkan namanya Amanat Keagungan Ilahi secara harfiah artinya sudah tersirat dalam judulnya, merupakan tuntunan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan yang dapat menuntun diri anda dari dalam diri anda sendiri. Ketahuilah dalam diri manusia ada segiumpal darah apabila bersih segumpal darah itu bersih pula sekujur tubuh, dan apabila kotor segumpal darah itu maka kotor pula sekujur tubuh. Hati yang bersih bersifat lunak dan tenang, adalah hati yang dapat berperan sebagai penasehat, dan barang siapa “hatinya” sudah berperan sebagai penasehat maka dia akan mendapatkan Allah sebagai penjaganya.

Menurutnya kehidupan dunia fana ini manusia sering terjebak pada pengakuan diri “sudah benar” dan bahkan paling benar. Sehingga orang lain yang tidak sepahan di tuding sesat.

Dikatakan juga bahwa janganlah mengambil kesimpulan berdasarkan “katanya”. Mengambil kesimpulan menuding “sesat” terhadap orang berjuang di jalan Allah dengan ikhlas tentu anda bukan berhadapan dengan orang-orang yang dituding, melainkan berhadapan kepada Allah yang maha berkuasa atas semua makhluknya. Pernahkah menyakini semua yang ada di muka bumi, di langit, dan diantara keduanya adalah makhluk Tuhan, dan Tuhan berkuasa atas semua makhluknya, serta tidak ada kejadian di bumi, di langit, dan diantara keduanya tanpa izin dan Ridho Tuhan.

Amanat Keagungan Ilahi sebenarnya adalah suatu tuntunan yang dalam pelaksanaannya mengajak menghidupkan dan memelihara zikirullah. Dirinya prihatin kepada mereka yang menuding sesat tanpa mempelajari dulu apa yang ada dalam Amanat Keagungan justru menjadikan mereka tersesat di jalan yang terang. (mas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *