Orasi Demonstrasi Tolak Industri Pertambangan di Manggarai

IMG-20141013-00498

MENCABUT DAN MENGHENTIKAN IJIN PERTAMBANGAN DAN TIDAK LAGI MENERBITKAN IJIN PERTAMBANGAN BARU
Orasi Terbuka oleh: Pastor Mike Peruhe,OFM

“Tidak ada kesedihan yang paling besar di muka bumi ini, selain kita kehilangan kampung halaman tercinta”. Kalimat tersebut menjadi pengantar orasi Pastor Mike Peruhe,OFM, saat melakukan aksi damai tolak tambang di Kantor Bupati Manggarai 13/10/2014 di Ruteng.

Manggarai-NTT, (BIN) – Dengan suara lantang, ketua advokasi Asia Pasifik JPIC-OFM menegaskan; Hampir tidak ada lagi rasa tenang, Rasa was-was menghantui setiap waktu, Tangis kemarin belum mengerin,Bahkan luka-luka masih menganga,Lubang-lubang tambang menghampiri kita Menyebarkan teror kematian di atas bumi Kuni Agu Kalo, Masihkah akan terulang……….???

“Kita semua berdiri di sini untuk mengatakan kepada dunia dan siapa pun bahwa kita tidak sudi kehilangan kampung halaman kita akibat kecerobohan kebijakan pembangunan. Kita berdiri di sini, tegak di bawah matahari untuk mengatakan kepada siapa pun bahwa kita tidak sudi membiarkan ruang kehidupan kita dibongkar dan diobrak-abrik oleh orang-orang yang datang untuk mengais kekayaan di atas penderitaan kita”. Tegas Peruhe.

Peruhe melanjutkan, “Kita semua bersatu hati berdiri di tanah ini untuk mengatakan kepada siapa pun bahwa kita tidak sudi tanah kuni agu kalo digadaikan kepada orang-orang yang haus kekayaan, datang dan membongkar perut ibu bumi kita hanya dengan kuasa sepotong kertas yang namanya IUP (Ijin Usaha Pertambangan); Lantas mereka bertindak seolah-olah adalah tuan atas tanah Kuni Agu Kalo.”

Berikut ini orasi Pastor Mike Peruhe,OFM selengkapnya:

Kita warga kuni agu kalo berdiri bergandengan tangan di sini untuk menyeruhkan kepada Bapa Bupati dan jajarannya agar mengakhiri kebijakan pertambangan di tanah kuni agu kalo. Karena operasi pertambangan telah menghancurkan kelestarian hutan-hutan kita, mengancam kekeringan sumber-sumber air, membuat polusi udara, telah menimbulkan konflik yang hebat antara masyarakat sederhana dengan perusahaan dan pemerintah; tak jarang warga harus berhadapan dengan aparat keamanan. Pertambangan telah menghancurkan lahan-lahan pertanian yang amat vital bagi mayoritas masyarakat kita yang adalah petani di bumi kuni agu kalo. Tanah pertanian yang telah menghidupkan kita ratusan tahun dengan menumbuhkan tanaman pangan dan komoditi yang menjamin kelangsungan hidup kita.

Kita semua berdiri di sini untuk mengatakan kepada semua orang bahwa masyarakat kecil yang mempertahankan hak-hak atas tanah telah dijadikan tumbal di lubang-lubang tambang, mereka mengalami tekanan yang hebat dan bahkan sebagian dipenjarakan.

Kita semua berdiri di sini untuk mendukung perjuangan kelompok masyarakat kecil di lingkar tambang yang selama ini telah menyampaikan protes terhadap pemerintah atas ijin usaha pertambangan di wilayah mereka, namun tidak pernah digubris dan diselesaikan dengan baik. Pemerintah terkesan membiarkan persoalan ini berlarut-larut dengan berbagai rasionalisasi yang tidak rasional. Kita semua dengan suara bulat menyeruhkan kepada negara agar tidak ada lagi kekerasan terhadap masyarakat kecil di wilayah tambang. Dan dengan tegas mendesak agar Pemerintah Manggarai Raya MENCABUT DAN MENGHENTIKAN IJIN PERTAMBANGAN DAN TIDAK LAGI MENERBITKAN IJIN PERTAMBANGAN BARU. Karena tambang lebih banyak mudaratnya daripada mendatang keuntungan pembangunan di bumi Kuni Agu Kalo.

Kita semua hadir di sini dengan penuh kedamaian: Atas nama keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan Tuhan, kita mendesak para investor tambang di bumi Kuni Agu Kalo agar segera meninggalkan wilayah ini karena kehadiran mereka dan aktivitas pertambangan telah memiskinkan, menyengsarakan dan merusakan lingkungan hidup di Bumi Kuni Agu Kalo. Kita tidak pernah kaya karena tambang, tetapi tambang telah memperkaya para investor tambang yang datang dan merampas kekayaan kita. Dengan berdalil mempercepat pembangunan di wilayah ini, nyata-nyatanya mereka mengangkut kekakyaan keluar dari Bumi Kuni Agu Kalo demi mempercepat kekayaan dirinya sendiri. Kami tidak ingin lagi kalian para investor tambang menggalih lubang kebohongan dan manipulasi di bumi Kuni Agu Kalo yang tercinta ini.

Kepada semua orang yang mendengarkan suaraku ini, aku hamba pengikut Santo Fransiskus dari Assisi menyerukan: Berdamailah Dengan Allah Pencipta, Berdamailah Dengan Segenap Ciptaan, itulah pesan Perdamaian Paus Yohanes Paulus II. Dan Paus Benediktus XVI penggantinya menyadarkan umat manusia akan bahaya ekologis – dengan seruan profetisnya: Jika Anda Mau Mengusahakan Perdamaian, Lindungilah Ciptaan. Santo Fransiskus dari Assisi, Pelindung Ekologi Gereja dan Dunia meminta kita agar memperlakukan segenap ciptaan sebagai saudari dan saudara kita, yang tidak boleh kita lukai dan rusakan.

Salam Kuni Agu Kalo, TUHAN MEMBERKATIMU DAN MEMBERKATI TANAH KUNI AGU KALO.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *