Illiza Sa’aduddin Djamal Tak Punya Konsep Jelas Soal Revitalisasi Pasar

Ketua Persatuan Persaudaraan Pedagang Psar Aceh (P4A), Muzakir Reza Pahlevi
Ketua Persatuan Persaudaraan Pedagang Psar Aceh (P4A), Muzakir Reza Pahlevi

Aceh, (BIN) – Perkembangan perekonomian Aceh khususnya di Banda Aceh pada saat ini bisa diukur oleh maraknya pembangunan pusat perdagangan. Keberadaan pusat perdagangan merupakan salah satu indikator paling nyata kegiatan ekonomi masyarakat di suatu wilayah. Menurut bentuk fisik, pusat perdagangan dibagi menjadi tiga yaitu pasar tradisional, Pedagang Kaki Lima dan pusat perbelanjaan modern. Dari sisi kepentingan ekonomi, semakin meningkatnya jumlah pusat perdagangan, baik yang tradisional maupun modern mendorong terciptanya peluang kerja bagi banyak orang. Mulai dari jasa tenaga satuan pengamanan, penjaga toko, pengantar barang, cleaning service, hingga jasa transportasi. Ini berarti kehadiran pusat perdagangan ikut serta dalam mengentaskan masalah pengangguran dan kemiskinan. Hal tersebut disampaikan Muzakir Reza Pahlevi, Ketua Umum Persatuan Persaudaraan Pedagang Pasar Aceh (P4A) melalui press rilisnya yang dikirim ke redaksi BIN, Senin (13/10/2014).

Namun sangat ironis, dengan kondisi pusat perdagang yang ada di Banda Aceh serba kekurangan dan tidak dimamfaatkan dengan baik oleh pemerintah Kota Banda Aceh di bawah kepemimpinan Walikota Illiza Sa’aduddin Djamal. Ada beberapa pasar tradisional maupun pasar seni moderen yang di kelola oleh pemerintah kota Banda Aceh namun, pemerintah Kota Banda Aceh tidak serius dalam menjalankan pusat perdagangan yang bisa meningkat ekonomi masyarakat kota banda aceh dan pendapatan pemerintah khususnya.

“Kita bisa melihat hampir semua pasar tradisional yang ada di Banda Aceh tebengkalai dan tidak terawat dengan baik maupun pasar tradisional tersebut terkesan kumuh, jorok. Pemerintah Kota Banda Aceh hanya melakukan pengutipan iuran (Pajak) kepada pedagang di dalam pasar tradisional, tapi tidak mau membenah atau merawatnya dengan baik. Banda Aceh di bawah kepemimpinan Illiza juga tidak maupun menjalan tugas atau fungsi pasar tradisional yang sebenarnya menurut aturan pemerintah,” ujar Muzakir.

Dikatakannya, semenjak meninggalnya Almarhum walikota terdahulu yaitu Bapak Mawady Nurdin kota Banda Aceh semakin seberaut dan tidak tertata dengan baik termasuk hancurnya pasar tradisional, “Apa lagi sampai saat ini wakil walikota Banda Aceh belum terpilih hal ini bisa menyebabkan terbengkalainya pelayan kepada masyarakat Kota Banda Aceh,” tegasnya.

Di bawah kepemimpinan walikota Banda Aceh Illiza, menurut Muzakir, Illiza tidak mempunyai konsep yang jelas dalam hal penataan PKL dan revitalisasi pasar tradisional yang lebih baik. PKL selalu digusur dengan paksa tanpa memberikan tempat yang layak untuk PKL dan pasar tradisional yang hanya dipungut pajak saja namun tidak dilakukan revitalisasi atau pemberdayaan pedagang pasar itu sendiri.

“Jadi pemerintah kota Banda Aceh hanya mau cari utung saja.” pungkasnya.

(Hasbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *